no fucking license
Bookmark

Board of Peace : Komite Perdamaian Internasional Untuk Gaza dan Israel

Sumber : www.theguardian.com

Mengenal BoP : Latar Belakang Histori dan Tujuan

Board of Peace (BoP) adalah badan internasional baru yang diinisiasi dan dipimpin oleh Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump dengan mandat awal terkait penyelesaian dan stabilisasi Israel-Hamas conflict di Gaza.

Secara formal, BoP diusulkan dalam konteks Comprehensive Plan to End the Gaza Conflict yang disusun oleh pemerintahan AS dan kemudian mendapatkan dukungan resmi dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) melalui Resolusi 2803 tanggal 17 November 2025.

Resolusi ini menyetujui pembentukan BoP sebagai mekanisme transitional governance bagi Jalur Gaza pascaperang dan menginspirasi pembentukan pasukan stabilisasi internasional (International Stabilization Force atau ISF) di wilayah tersebut.

Berawal Krisis Gaza Menuju Mekanisme Internasional Baru

Permulaan BoP tidak lepas dari kegagalan berbagai mekanisme yang lebih dulu ada untuk menyelesaikan konflik di Timur Tengah, terutama Israel–Palestine Conflict yang sudah berlangsung puluhan tahun.

Sejak Perang Gaza berkobar pada 2023, upaya diplomasi multilateral mengalami kebuntuan yang kemudian memberi ruang bagi proposal bilateralis yang maju lebih cepat, seperti Comprehensive Plan Trump. Pendekatan ini kemudian diintegrasikan ke dalam praktik multilateral melalui endorsement PBB.

Dari Gaza ke Agenda Global

Meskipun awalnya mandat BoP bersifat sangat terfokus pada Gaza, perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa dokumen pendirian yang dirumuskan dalam piagam BoP justru tidak menyebut Gaza secara eksplisit.

Piagam tersebut malah menyatakan tujuan yang lebih luas,

“Memperkuat stabilitas, Mengembalikan pemerintahan yang sah dan tertib, serta Mengamankan perdamaian yang berkelanjutan di kawasan yang terkena atau terancam konflik”.

Ini mencerminkan perluasan geografis mandat BoP ke luar Timur Tengah.

Meski secara formal BoP mendapatkan dukungan dari DK PBB, mandat globalnya menimbulkan kekhawatiran bahwa badan ini bisa berkompetisi atau bahkan menyaingi peran PBB tradisional dalam penyelesaian konflik internasional.

Struktur dan Kepemimpinan: Desain Baru dalam Arsitektur Perdamaian

Salah satu elemen yang membedakan BoP dari badan internasional tradisional adalah kepemimpinan langsung oleh seorang tokoh politik tertentu yaitu Donald Trump yang diposisikan sebagai Inaugural Chairman.

Menurut piagam awal, posisi ketua BoP akan dipegang oleh Trump selama masa tertentu, bahkan berpotensi melewati masa jabatannya sebagai Presiden AS. Ini merintis model kepemimpinan yang belum lazim dalam struktur internasional yang biasanya kolegial seperti di PBB.

Selain itu, mekanisme keanggotaannya memberikan opsi kontribusi besar (misalnya kontribusi minimal US$1 miliar) bagi negara yang ingin memperoleh kursi permanen di BoP, menunjuk adanya komponen geoekonomi yang kuat dalam struktur organisasi tersebut. Ini membedakannya dari badan internasional lain yang umumnya tidak mematok kontribusi finansial sebesar itu sebagai syarat keanggotaan tetap.

Tujuan Formal BoP

Secara resmi, tujuan BoP dirumuskan antara lain :

  1. Mendukung stabilisasi pascakonflik di kawasan seperti Gaza melalui administrasi transisional;
  2. Memobilisasi sumber daya global untuk rekonstruksi fisik, ekonomi, dan institusional;
  3. Meningkatkan tata kelola pemerintahan lokal dan regional demi legitimasi maupun efektivitas di lapangan;
  4. Mewujudkan perdamaian jangka panjang dengan mekanisme yang lebih luwes dibanding struktur tradisional PBB.

Keterkaitan BoP dengan Indonesia

Indonesia bergabung dengan Board of Peace (BoP) terutama karena dua motif yang dinyatakan pemerintah: mendorong penghentian kekerasan di Gaza, perlindungan warga sipil, serta perluasan akses bantuan kemanusiaan. Kemlu menempatkan keanggotaan ini sebagai bagian dari jalur diplomasi yang lebih luas untuk stabilitas kawasan, bukan sekadar ikut-ikutan forum baru.

Di level geopolitik, keterlibatan Indonesia juga merupakan upaya memperbesar pengaruh (diplomatic leverage) dalam isu Palestina melalui arena yang sedang “naik panggung” dan dipimpin langsung Washington. BoP diluncurkan Trump di Davos dengan narasi awal soal Gaza, lalu diarahkan menjadi instrumen yang lebih luas, sehingga bagi Indonesia, ikut sejak awal berarti masuk dalam ruang gerak, ketika mandat, prioritas, dan arsitektur kerja masih dibentuk.

Ini sejalan dengan logika bebas-aktif,  hadir di forum strategis agar bisa memengaruhi arah kebijakan, terutama pada isu yang sensitif secara domestik dan penting dalam identitas diplomasi Indonesia.

Pro dan Kontra Menurut Para Ahli Dan Pandangan Pemimpin Dunia

Board of Peace (BoP) segera memecah opini global ke dua kubu besar. Mereka yang melihatnya sebagai jalan pintas diplomasi Gaza, dan mereka yang menganggapnya berpotensi menjadi rival kelembagaan bagi PBB.

Dari sisi pro, Trump menekankan BoP akan mulai dari stabilisasi Gaza lalu berkembang ke konflik lain, sembari mengklaim tetap bekerja sama dengan PBB. Sejumlah negara terutama di Timur Tengah menyambutnya karena menjanjikan Political Attention tingkat tinggi, koordinasi cepat, dan mobilisasi sumber daya untuk fase pascakonflik yang biasanya lambat bila hanya mengandalkan birokrasi multilateral konvensional.

Kubu kontra menilai desain BoP justru problematik secara normatif dan institusional. Kekhawatiran utama BoP dapat menggerus otoritas PBB karena dipersonifikasikan pada Trump sebagai ketua, serta membuka model keanggotaan permanen yang dikaitkan dengan kontribusi finansial sekitar US$1 miliar (atau mekanisme perpanjangan masa keanggotaan berbasis kontribusi) yang memunculkan kesan privatisasi tata kelola perdamaian.

Kritik ini juga menyasar kemungkinan BoP menjadi forum yang lebih mudah dikendalikan kepentingan satu negara atau koalisi tertentu dibanding mekanisme PBB yang memiliki kerangka hukum dan prosedur lebih mapan.

Dari Eropa, respons yang mengemuka cenderung hati-hati hingga skeptis. Sejumlah pemerintah dan pejabat Eropa mengisyaratkan kekhawatiran BoP melewati atau melemahkan institusi yang sudah ada, apalagi ketika muncul kabar undangan kepada pemimpin yang kontroversial dalam konteks keamanan Eropa.

Sejauh mana Komitmen BoP membantu Gaza Pasca Konflik

Komitmen BoP untuk Gaza secara formal berakar pada mandat DK PBB melalui Resolusi 2803 (17 November 2025) yang mengotorisasi negara-negara anggota bekerja sama dengan BoP untuk membentuk International Stabilization Force (ISF) dan mendukung kerangka transisi pascakonflik.

Artinya, pada level rancangan, BoP diproyeksikan bukan sekadar forum politik, tetapi simpul koordinasi stabilisasi keamanan tata kelola rekonstruksi yang wajib melapor atau terhubung dengan mekanisme DK PBB.

Namun secara praktik, komitmen BoP diperdebatkan karena dokumen piagam/charter yang beredar pada Januari 2026 disebut tidak menyebut Gaza secara eksplisit dan justru mendefinisikan misi BoP lebih luas.

Mempromosikan stabilitas, memulihkan pemerintahan yang “lawful”, dan mengamankan perdamaian di area konflik secara umum. Konsekuensinya, skeptisisme muncul apakah Gaza tetap prioritas, atau hanya sebagai tiket masuk untuk proyek lembaga global baru.


Penulis : Syafrial A.

Posting Komentar

Posting Komentar