no fucking license
Bookmark

Nilai Tukar Dollar AS Hampir Menyentuh Rp.17.000, Purbaya Optimis Rupiah Dapat Kembali Menguat

Kurs dollar AS ke rupiah. Sumber: Google Finance

Lentera Biru, (21/01). Diketahui per tanggal 20 Januari 2026, nilai tukar mata uang dollar di angka Rp. 16.956,00 bahkan sempat menyentuh angka terendahnya Rp,16.980,00. Hal ini menjadi titik terlemah rupiah sepanjang sejarah. Kementrian Keuangan (Kemenkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan hal ini bersifat sementara, dirinya yakin rupiah akan kembali menguat.

Menanggapi tekanan nilai tukar rupiah yang hampir menembus level Rp17.000 per dolar AS. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakinkan publik dan pelaku pasar bahwa kondisi ini bersifat sementara dan tidak mengindikasikan keruntuhan fundamental ekonomi Indonesia.

Purbaya menekankan bahwa pelemahan bersifat relatif kecil bila dilihat secara persentase dari periode sebelumnya, sehingga implikasi negatif terhadap stabilitas ekonomi diperkirakan minimal. Menurutnya, sistem keuangan nasional tetap kuat dan terjaga dengan baik.

“Jadi tinggal tunggu waktu aja rupiahnya menguat.” Komentar Purbaya saat diwawancarai di Kawasan Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (20/01).

Ia juga menekankan bahwa pergerakan rupiah harus dilihat dalam konteks yang lebih luas. Fundamental ekonomi Indonesia tetap resilient, seperti tercermin pada penguatan pasar saham Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan mencatat level tertinggi sepanjang masa baru-baru ini. Arus masuk modal asing yang terus terjadi di pasar modal diyakini akan memperkuat suplai dolar dan pada gilirannya mendukung penguatan kembali rupiah.

“Kalo indeksnya naik ke situ (IHSG) pasti ada flow asing masuk situ juga kan, nggak mungkin domestik sendiri yang bisa mendorong itu ke level seperti itu.” Lanjutnya.

Sementara respon lain datang dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melihat pelemahan rupiah ini. OJK menegaskan bahwa dampaknya terhadap sektor perbankan tidak dapat disamaratakan setiap bank memiliki profil risiko dan ketahanan berbeda, sehingga pemantauan dan penilaian risiko dilakukan secara individual untuk memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga.

“Jadi saya kira itu harus di-assess individual bank seperti apa. Tentu ada semacam stresnya di mana masing-masing bank juga akan melakukan itu.” Ujar Dian Ediana Dea Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, pada sesi sharing session, Merlynn Park Hotel, Jakarta.

Dari perspektif makroekonomi, pelemahan rupiah hingga mendekati Rp17.000 per dolar AS mencerminkan kombinasi tekanan eksternal dan dinamika domestik. Sikap moneter Amerika Serikat serta pergeseran sentimen investor global terhadap aset negara berkembang menciptakan lingkungan yang kurang kondusif bagi mata uang lokal, sementara kekhawatiran atas independensi kebijakan moneter dan stabilitas fiskal memperburuk persepsi risiko pasar.

Di tengah tekanan tersebut, optimisme Menteri Keuangan Purbaya, kehati-hatian Bank Indonesia, serta pengawasan OJK menjadi faktor penopang utama stabilitas, menegaskan bahwa respon kebijakan yang rasional, transparan, dan terkoordinasi tetap krusial untuk menjaga kepercayaan investor dan meredam volatilitas pasar ke depan.


Penulis : Syafrial A.

Posting Komentar

Posting Komentar