no fucking license
Bookmark

Indonesia Punya Partai Politik Baru, Pengaruh dan Arah Gerak menuju 2029

 

logo kedua partai politik baru di Indonesia

Lentera Biru, (20/01). Kelahiran dua partai politik baru pada awal 2026 menandai babak baru dalam lanskap demokrasi Indonesia, sekaligus mengirim sinyal kuat bahwa kontestasi politik menuju Pemilu 2029 telah dimulai lebih dini. Di tengah menurunnya kepercayaan publik terhadap partai lama dan menguatnya politik berbasis figur, kemunculan Partai Gerakan Mandiri Bangsa (Gema Bangsa) dan Partai Gerakan Rakyat bukan sekadar penambahan aktor elektoral, melainkan cerminan pergeseran strategi kekuasaan, arah representasi politik, dan perebutan basis legitimasi di masa depan.

Memasuki awal 2026, dinamika politik nasional Indonesia kembali menjadi sorotan pasca lahirnya dua partai politik baru. Partai Gema Bangsa dan Partai Gerakan Rakyat. Kedua entitas ini resmi dideklarasikan pada pertengahan Januari dalam momen yang oleh sejumlah analis disebut sebagai tanda awal mobilisasi politik menuju Pemilu dan Pilpres 2029.

Fenomena ini menarik karena tidak sekadar penambahan aktor dalam sistem multipartai Indonesia, tetapi juga mencerminkan perubahan strategi politik dari sekadar partai berbasis ideologi ke arah organisasi yang semakin personalistis dan figur-berbasis dalam kontestasi elektoral. Pergeseran ini terjadi di tengah realitas di mana total partai politik terdaftar di Indonesia mencapai puluhan (78 partai) sehingga menimbulkan pertanyaan serius tentang kualitas representasi politik dan stabilitas demokrasi.

Identitas & Latar Belakang Terbentuknya Partai Gema Bangsa dan Partai Gerakan Rakyat

1.  Partai Gema Bangsa: Kelahiran dari Kritik terhadap Politik Sentralistik

Partai Gema Bangsa lahir melalui deklarasi resmi pada 17 Januari 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta Pusat. Gema Bangsa dipimpin oleh Ahmad Rofiq sebagai Ketua Umum dan Muhammad Sopiyan sebagai Sekretaris Jenderal, dengan struktur organisasi yang mencakup pengurus hingga tingkat daerah. Deklarasi ini menjadi tanda lahirnya kekuatan politik baru yang menempatkan dirinya sebagai alternatif dari praktik politik lama yang dinilai sentralistik dan elitistis.

Latar belakang pembentukan partai ini dipicu oleh kegelisahan sejumlah tokoh terhadap dinamika politik nasional yang selama ini terpusat pada elite besar serta minimnya ruang bagi suara akar rumput. Tokoh-tokohnya yang sebagian besar merupakan eks-kader partai mapan menegaskan bahwa Gema Bangsa hadir sebagai respon atas kondisi politik Indonesia yang dinilai terlalu terpusat dan kurang responsif terhadap kebutuhan lokal.

Mereka memosisikan partai ini sebagai wadah perjuangan kemandirian bangsa, yang menekankan pada desentralisasi politik, pembagian kekuasaan yang lebih luas kepada daerah, serta kedaulatan rakyat di dalam proses pengambilan keputusan politik.

Secara identitas ideologis, meskipun partai ini belum secara formal merilis manifesto lengkap, narasi awalnya menonjolkan tiga pilar utama : Indonesia Mandiri, Desentralisasi Politik, dan Indonesia Reborn. Sebuah slogan yang mengisyaratkan transformasi struktural terhadap praktik politik nasional. Dalam deklarasinya, Gema Bangsa juga menyatakan dukungan terhadap seorang figur kuat di panggung nasional sebagai bagian dari strategi elektoralnya.

2.   Partai Gerakan Rakyat: Transformasi Ormas dan Basis Figuratif

Berbeda dengan Gema Bangsa, Partai Gerakan Rakyat lahir dari transformasi sebuah organisasi masyarakat (ormas) yang telah aktif secara sosial-politik sejak beberapa tahun sebelumnya. Ormas ini resmi berubah menjadi partai politik setelah menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas I) pada 17–18 Januari 2026 di Jakarta.

Dalam Rakernas tersebut, Sahrin Hamid ditetapkan sebagai Ketua Umum, dengan struktur dewan pakar dan pengurus lainnya terlibat dalam proses formal pendirian partai. Target resmi mereka adalah terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM pada Februari 2026 sebagaimana diwajibkan oleh hukum partai politik.

Identitas Gerakan Rakyat sangat terkait dengan dukungan kepada Anies Rasyid Baswedan, mantan Gubernur DKI Jakarta dan tokoh nasional yang telah lama menjadi figur sentral dalam politik nasional. Anies semakin menguat dari sisi simbolik ketika diberi Kartu Tanda Anggota (KTA) bernomor 0001, yang menegaskan keterikatan partai ini dengan figur tersebut sebagai bagian dari arah politiknya.

Hal ini menunjukkan bahwa Gerakan Rakyat bukan hanya sekadar entitas organisasi, tetapi juga sebagai kendaraan politik yang secara eksplisit berorientasi pada seorang figur yang sudah dikenal luas publik.

Tokoh-tokoh di Balik Berdirinya Kedua Partai

1.  Partai Gema Bangsa

Ahmad Rofiq dan Muhammad Sopiyan menjadi wajah utama dari lahirnya Partai Gema Bangsa. Keduanya disebut memimpin struktur partai sejak deklarasi digelar di Jakarta pada 17 Januari 2026. Ahmad Rofiq menjabat sebagai Ketua Umum, sementara Muhammad Sopiyan menduduki posisi Sekretaris Jenderal.

Dalam pidato deklarasi, Rofiq menegaskan kesiapan partai untuk berkiprah secara formal di politik nasional, mengusung visi besar tentang kemandirian bangsa sekaligus menyatakan dukungan terhadap figur tertentu untuk Pemilu 2029. Pendekatan ini segera menarik perhatian karena kombinasi kepemimpinan struktural dengan manuver politik yang terencana jauh sebelum kampanye resmi.

2.  Partai Gerakan Rakyat

Kelahiran Partai Gerakan Rakyat berbeda dari Gema Bangsa karena lahir langsung dari organisasi kemasyarakatan (ormas) yang aktif sejak beberapa tahun sebelumnya. Pimpinan utama partai ini adalah Sahrin Hamid, yang ditetapkan sebagai Ketua Umum melalui Rapat Kerja Nasional (Rakernas I) pada Januari 2026. Dalam posisi ini, Sahrin memainkan peran sentral dalam mengubah gerakan sosial menjadi entitas politik formal.

Satu hal yang membedakan Gerakan Rakyat dari banyak partai baru lainnya adalah dukungan eksplisit terhadap Anies Rasyid Baswedan sebagai calon presiden di Pilpres 2029. Anies mantan Gubernur DKI Jakarta dan salah satu figur politik nasional yang paling dikenal luas bahkan diberikan Kartu Tanda Anggota (KTA) nomor 0001 oleh partai ini sebelum pendirian formalnya, yang menandakan hubungan strategis antara partai dan figur tersebut.

Gagasan yang Ditawarkan kepada Masyarakat

Partai Gema Bangsa menempatkan isu desentralisasi politik dan kemandirian daerah sebagai gagasan utama. Dalam pernyataan resminya, pimpinan partai menilai praktik demokrasi selama ini terlalu tersentralisasi di elite pusat, sehingga suara daerah dan masyarakat akar rumput kerap terpinggirkan.

Karena itu, Gema Bangsa mengusung narasi penguatan peran daerah, kaderisasi berbasis komunitas lokal, serta penolakan terhadap praktik politik transaksional yang dinilai merusak demokrasi. Gagasan tersebut disampaikan secara terbuka dalam deklarasi partai dan diperkuat dalam wawancara dengan sejumlah media nasional.

Dikutip dari Website resmi mereka, ada 3 gagasan yang dituliskan dalam profil Ahmad Rofiq, Pertama Mengakhiri Feodalisme, Menegakkan Kesetaraan. Kedua Desentralisasi: Obat Penawar bagi Demokrasi yang Sakit. Ketiga Geopolitik dan Martabat Bangsa.

Sementara itu, Partai Gerakan Rakyat lebih menekankan gagasan politik berbasis gerakan sosial dan keberlanjutan aspirasi relawan. Partai ini menyatakan ingin menjadi saluran politik bagi kelompok masyarakat yang selama ini aktif dalam gerakan sosial, tetapi tidak terakomodasi secara optimal oleh partai-partai mapan.

Fokus mereka adalah memperjuangkan keadilan sosial, pemerintahan yang bersih, serta kepemimpinan yang dianggap dekat dengan rakyat. Arah gagasan ini juga tidak dapat dilepaskan dari figur Anies Baswedan, yang sering dikaitkan dengan narasi perubahan, etika kekuasaan, dan tata kelola pemerintahan yang lebih inklusif.

Secara umum, kedua partai sama-sama mengusung tema perbaikan kualitas demokrasi, namun dengan pendekatan yang berbeda. Gema Bangsa mencoba menawarkan pembaruan melalui reformasi struktur dan sistem politik, sedangkan Gerakan Rakyat menonjolkan kontinuitas gerakan dan figur kepemimpinan sebagai pintu masuk perubahan. Perbedaan ini menjadi penanda awal bagaimana masing-masing partai berupaya merebut perhatian dan kepercayaan publik di tengah kejenuhan masyarakat terhadap partai politik lama.

Kepercayaan Publik Terhadap Politik

Survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan publik terhadap partai politik berada di kisaran sekitar 65,6 persen dari total responden yang merasa “sangat percaya” atau “cukup percaya.” Tingkat ini tergolong rendah jika dibandingkan dengan kepercayaan terhadap Presiden atau TNI, yang masing-masing mencapai lebih dari 80 persen. Secara khusus, institusi seperti partai politik dan legislatif cenderung berada di peringkat bawah dalam daftar kepercayaan publik terhadap lembaga negara.

Kepentingan Apa dan Siapa yang Mereka Upayakan untuk Pemilu 2029 ?

Partai Gema Bangsa cenderung mengupayakan kepentingan politik yang bersifat institusional dan struktural. Melalui narasi desentralisasi politik, penguatan daerah, dan kritik terhadap dominasi elite pusat, partai ini berusaha mengisi ruang kosong yang ditinggalkan partai-partai lama yang gagal lolos parlemen pada Pemilu 2024.

Media mencatat bahwa Gema Bangsa sejak awal juga melakukan early positioning dengan menyatakan arah dukungan politik nasional, sebuah langkah yang dibaca sebagai strategi untuk mengamankan relevansi dan akses kekuasaan menjelang 2029.

Sementara itu, Partai Gerakan Rakyat secara lebih eksplisit memperjuangkan kepentingan politik yang berbasis figur. Dukungan terbuka terhadap Anies Baswedan sejak fase awal pendirian partai memperlihatkan bahwa Gerakan Rakyat diposisikan sebagai kendaraan elektoral menuju Pilpres 2029. Sejumlah pengamat yang dikutip media menilai, transformasi dari relawan dan ormas menjadi partai politik merupakan upaya mengonversi loyalitas sosial dan simpati publik terhadap figur tertentu menjadi kekuatan elektoral formal.

Pada akhirnya, kepentingan yang diperjuangkan kedua partai baru ini bertemu pada satu titik krusial yakni, perebutan legitimasi politik di tengah krisis kepercayaan publik. Gema Bangsa menawarkan pembaruan melalui pendekatan struktural dan institusional, sementara Gerakan Rakyat mengandalkan kesinambungan gerakan sosial dan kekuatan figur. Arah ini akan sangat menentukan apakah keduanya mampu berkembang menjadi institusi politik yang berkelanjutan atau sekadar menjadi instrumen elektoral sementara menjelang Pemilu 2029.


Penulis : Syafrial A.

Posting Komentar

Posting Komentar