no fucking license
Bookmark

Surat Cinta untuk Ketua Rayon dan Kopri PMII RUF Masa Khidmat 2026 -2027

Kepada Yth : Ketua Rayon dan Kopri terpilih Masa Khidmat 2026-2027

Pada suatu waktu ketika saya sedang mapan-mapannya leyeh-leyeh di atas kasur, saya mendapati kabar bahwa PMII rayon Ushuluddin telah menuntaskan satu bab penting yang selalu dibungkus rapi disebutnya istilah RTAR (baca: Rapat) yang bagi golongan fasik seperti saya ini cukuplah disebut rapat saja, kiranya terlalu utopis kalau dikemas dengan tema yang terlampau mendakik-ndakik.

Tentu saya mendapati kabar itu, lengkap dengan kabar keputusan yang tak kalah serius bin penting yakni terpilihnya sahabat Ridlwan dan sahabati Dila yang menjadi ketua koprinya. Tentu dengan sedikit harapan yang meskipun ndak seratus persen berharap bisa menjadi ketua yang insyallah memegang kemudi rayon PMII Ushuluddin menjadi lebih progresif, atau setidaknya membuat RUF tidak mlempem pergerakannya dan segala tetek bengek wacana kritis kaum muda wa bil khusus kader PMII RUF itu kedepan.

Jika kita menenogok kembali dengan penuh kesadaran, PMII Ruf sebenarnya tidaklah kekurangan orang-orang pintar, cuma kadang kekurangan kesediaan untuk bertahan dalam satu payung perjuangan atau sebagian dari sahabat-sahabat sulit untuk merealisasikan slogan-slogan langit yang kadang-kadang ndak membumi itu justru alih memperjuangkannya, namun nahas apa yang hendak dicita-citakan bersama itu: berdaulat atas apapun justru malah terbengkalai sia-sia. Bak hanya angan-angan yang disuarakan melalui mimpi (Baca: Mimpi Basah).

Dalam satu catatan kuna yang saya baca, Immanuel Kant dalam Idea for a Universal History from a Cosmopolitan Point of View – 1784, menyinggung pentingnya keramahtamahan universal diistilahkannya Cosmopolitan Right yakni sikap terbuka yang dibangun di atas aturan dan kepedulian nyata, bukan sekadar abang-abang lambe tong kosong nyaring bunyinya dari para pemegang kebijakan, tentu apa yang dituliskan Kant ini menarik, dan alangkah menariknya lagi kalau sampeyan (sahabat Ridlwan dan Sahabati Dila) ini membacanya, tidak membacanya pun tidak apa-apa tapi untuk mengantisasipasi agar kader-kader RUF tidak mentemplatekan ketua ita-itu kepada sampeyan.

Kembali kepada Kant di atas, gagasan tersebut berhubungan dengan kilas pandang Antony Black menyoal simbiosis sejarah-budayanya dalam membentuk kehidupan politik. Barangkali gagasan itu terlalu mendakik kalau dibaca tidak dibarengi dengan pondasi epistemologi yang kuat. Cuma saya masih optimis dengan sampeyan-sampeyan selaku kader yang didaulatkan sebagai pengemudi / pelayan PMII Rayon Ushuluddin dan Filsafat hari ini.

Perlu diketahui juga menyoal pemimpin bahwa dalam Islam, yang disebut jabatan dan aktivitas politik terhubung sebagai kategori “amanah” dan tugas publik (waliyat) dengan demikian, kader yang diberi amanah menjadi pemimpin wajib menyampaikan amanat kepada para pemberi amanat itu dan bisa menghukumi secara adil barangkali begitu dalam tafsir (Qs. An-Nisa 61-62.) jadi alfaqir sungkan karena bukan anak tafsir apalagi takut tidak amanah seperti periode kemarin. Sedangkan tujuan dari setiap tugas publik (waliyat ) tidak lain ialah menghadirkan kesejahteraan, lahir dan batin. Dalam kaidah fikih disebutkan Tasaruful imam ala arro’iyatih al manutun bil mashlahah”. Begitulah kira-kira bahwa tindakan seorang pemimpin harus selalu bergantung pada kemaslahatan yang dipimpinnya.

Pemimpin seperti itu, dalam istilah disebut sebagai “pemimpin yang cantik/seksi”. Bukan tampan, sebab ketampanan tidak mencakup popularitas. Dalam kecantikan tetap ada kejantanan serta keberanian untuk mengambil keputusan demi kebaikan bersama. Demikianlah gambaran seorang pemimpin. Apabila ia hanya sekadar tampak cantik—gagah omangan dalam posisinya, mengenakan baju formal, menghadirkan senyum-senyum baperisasi, kulit bersih yang mengkilau oleh hand body, serta retorika yang melangit-langit—maka itu bukan kecantikan, melainkan ketololan yang nyata.

Terakhir saya tulis bahwa sedari dulu yang terjadi adalah semacam ironi yang kerap kita rawat tanpa sadar: kita sibuk menyiapkan perubahan besar, sementara dalam waktu yang sama seperti sedang menunggu badai datang menghantam. Karena dari persoalan di atas banyak yang tidak benar-benar memiliki metabolisme pergerakan yang sehat, pada akhirnya dari situlah perlahan muncul semacam penyakit dalam diri—rasa enggan, letih yang dipelihara, hingga keinginan untuk berhenti sebelum benar-benar berjuang. Dan barangkali di titik itulah THR lebaran ini perlu diingat kembali salam dan salim tabik minal aidzin wal faidzin mohon maad lahir dan bathin.


Fahmi Ayatullah

Posting Komentar

Posting Komentar