Pada suatu waktu ketika saya sedang mapan-mapannya leyeh-leyeh
di atas kasur, saya mendapati kabar bahwa PMII rayon Ushuluddin telah
menuntaskan satu bab penting yang selalu dibungkus rapi disebutnya istilah RTAR (baca: Rapat) yang bagi golongan fasik seperti
saya ini cukuplah disebut rapat saja, kiranya terlalu utopis kalau dikemas
dengan tema yang terlampau mendakik-ndakik.
Tentu saya mendapati
kabar itu, lengkap dengan kabar keputusan yang tak kalah serius bin penting
yakni terpilihnya sahabat Ridlwan dan sahabati Dila yang menjadi ketua koprinya.
Tentu dengan sedikit harapan yang meskipun ndak seratus persen berharap bisa menjadi
ketua yang insyallah memegang kemudi rayon PMII Ushuluddin menjadi lebih
progresif, atau setidaknya membuat RUF tidak mlempem pergerakannya dan
segala tetek bengek wacana kritis kaum muda wa bil khusus kader PMII RUF itu kedepan.
Jika kita menenogok kembali dengan penuh kesadaran, PMII
Ruf sebenarnya tidaklah kekurangan orang-orang pintar, cuma kadang kekurangan
kesediaan untuk bertahan dalam satu payung perjuangan atau sebagian dari
sahabat-sahabat sulit untuk merealisasikan slogan-slogan langit yang
kadang-kadang ndak membumi itu justru alih memperjuangkannya, namun nahas apa
yang hendak dicita-citakan bersama itu: berdaulat atas apapun justru malah terbengkalai
sia-sia. Bak hanya angan-angan yang disuarakan melalui mimpi (Baca: Mimpi Basah).
Dalam satu catatan kuna yang saya baca, Immanuel Kant dalam Idea for a Universal
History from a Cosmopolitan Point of View – 1784, menyinggung pentingnya keramahtamahan universal diistilahkannya Cosmopolitan Right
yakni sikap terbuka yang dibangun di atas aturan dan kepedulian nyata, bukan sekadar
abang-abang lambe tong kosong nyaring bunyinya dari
para pemegang kebijakan, tentu apa
yang dituliskan Kant ini menarik, dan alangkah menariknya lagi kalau sampeyan (sahabat
Ridlwan dan Sahabati Dila) ini membacanya, tidak membacanya pun tidak apa-apa
tapi untuk mengantisasipasi agar kader-kader RUF tidak
mentemplatekan ketua ita-itu kepada sampeyan.
Kembali kepada Kant di atas, gagasan tersebut berhubungan dengan kilas pandang Antony Black menyoal simbiosis sejarah-budayanya dalam membentuk kehidupan
politik. Barangkali gagasan
itu terlalu mendakik kalau dibaca tidak dibarengi dengan pondasi epistemologi
yang kuat. Cuma saya masih optimis dengan sampeyan-sampeyan selaku kader yang didaulatkan sebagai pengemudi / pelayan PMII Rayon Ushuluddin dan Filsafat hari ini.
Perlu diketahui juga menyoal pemimpin bahwa dalam Islam, yang disebut jabatan dan aktivitas
politik terhubung sebagai kategori “amanah” dan tugas publik (waliyat) dengan
demikian, kader yang diberi amanah menjadi pemimpin wajib menyampaikan amanat
kepada para pemberi amanat itu dan bisa menghukumi secara adil barangkali
begitu dalam tafsir (Qs. An-Nisa 61-62.) jadi alfaqir sungkan karena bukan anak
tafsir apalagi takut tidak amanah seperti periode kemarin. Sedangkan tujuan dari
setiap tugas publik (waliyat ) tidak lain ialah menghadirkan
kesejahteraan, lahir dan batin. Dalam kaidah fikih disebutkan “Tasaruful imam ala arro’iyatih
al manutun bil mashlahah”. Begitulah kira-kira bahwa tindakan
seorang pemimpin harus selalu bergantung pada kemaslahatan yang dipimpinnya.
Pemimpin seperti itu, dalam istilah disebut sebagai
“pemimpin yang cantik/seksi”.
Bukan tampan, sebab ketampanan tidak mencakup popularitas. Dalam kecantikan
tetap ada kejantanan serta keberanian untuk mengambil keputusan demi kebaikan
bersama. Demikianlah gambaran seorang pemimpin. Apabila ia hanya sekadar tampak cantik—gagah omangan dalam posisinya, mengenakan baju
formal, menghadirkan senyum-senyum
baperisasi, kulit bersih yang mengkilau oleh hand body, serta retorika
yang melangit-langit—maka itu
bukan kecantikan, melainkan ketololan
yang nyata.
Terakhir saya tulis bahwa sedari dulu yang terjadi adalah semacam
ironi yang kerap kita rawat tanpa sadar: kita sibuk menyiapkan perubahan besar,
sementara dalam waktu yang sama seperti sedang menunggu badai datang
menghantam. Karena dari
persoalan di atas banyak yang tidak benar-benar memiliki metabolisme pergerakan yang sehat, pada akhirnya dari situlah
perlahan muncul semacam penyakit dalam diri—rasa enggan, letih yang dipelihara,
hingga keinginan untuk berhenti sebelum benar-benar berjuang. Dan barangkali di
titik itulah THR lebaran ini perlu diingat kembali salam dan salim tabik minal aidzin wal faidzin mohon maad lahir dan bathin.
Fahmi Ayatullah




Posting Komentar