no fucking license
Bookmark

Dari Kegelisahan Menuju Arah Gerak dan Harapan

Media Lentera Biru

Ada satu hal yang tidak bisa diabaikan, bahwa dalam tubuh "Pergerakan" sering kali terjadi jarak antara apa yang dipikirkan dengan apa yang dibicarakan, dari yang dibicarakan dengan apa yang benar-benar dilakukan. Jarak inilah yang perlahan lahan melahirkan ironi dalam tubuh "Pergerakan", ketika gagasan besar terus menerus diproduksi akan tetapi tidak menemukan bentuknya dalam tindakan kongkret.

Dalam waktu yang sama, semangat yang semula menyala justru meredup di ujung setiap gerakan kongkret, hal ini terjadi bukan karena ketiadaan potensi, melainkan karena tidak adanya arah gerak yang jelas dan semangat yang sama dalam memahami sistem secara berkelanjutan.

Situasi ini memerlukan perubahan yang tidak berhenti pada tataran wacana, kaderisasi misalnya, tidak cukup hanya dipahami sebagai proses penguatan intelektual tetapi harus menjadi ruang pembentukan kebiasaan bertindak pagi seluruh kader dalam berperoses. Artinya setiap proses belajar perlu diikuti dengan praktik konkret sekecil apa pun itu. Dari sinilah konsistensi mulai dibangun dan bukan sebagai tuntutan moral melainkan sebagai hasil dari keterlibatan yang terus-menerus kira-kira.

Dalam konteks diskursus perkembangan dalam organisasi, penting untuk menggeser orientasi dari sekadar “membicarakan” menjadi “menghasilkan”. Membuat forum kajian yang seringkali digunakan sebagai alternatif kegiatan tidak lagi cukup menjadi tempat berkembang jika hanya melahirkan pemahaman hampa, tetapi perlu diarahkan untuk menciptakan hasil yang bisa diuji dan dirasakan dampaknya. Dengan begitu gagasan tidak berhenti sebagai sesuatu yang “melangit”, melainkan bergerak menuju realitas yang lebih membumi bagi banyak orang.

Dari sini jika dikaji lebih mendalam persoalan kelelahan kader di PMII RUF perlu dipahami sebagai tanda bahwa ritme organisasi belum berjalan secara sehat. Energi gerakan kita tidak akan bertahan jika hanya bertumpu pada semangat sesaat atau tuntutan militansi tanpa arah yang jelas disetiap tahunnya. Karena pemahaman militansi, loyalitas dan integritas kader itu perlu dibangun melalui pola gerak yang lebih terukur, dengan pembagian peran yang jelas serta ruang partisipasi yang proporsional ditubuh PMII RUF. Agar nantinya kader tidak hanya dituntut aktif semata-mata hanya untuk menghidupkan organisasi, tetapi juga perlu merasakan bahwa keterlibatannya memiliki makna yang penting dari setiap kegiatan.

PMII RUF dalam situasi seperti ini tidak membutuhkan sebuah sistem kepemimpinan yang hadir sebagai simbol atau pusat komando otoriter, tetapi sebagai penggerak yang memastikan setiap proses berjalan dan keterhubungan. Ukuran keberhasilan dari proses kedepan tidak lagi terletak pada banyaknya kegiatan yang dibuat, melainkan pada sejauh mana kegiatan tersebut mampu membangun kesinambungan dan dampak yang dihasilkan. Maka evaluasi menjadi bagian penting, bukan untuk mencari kesalahan pribadi, tetapi untuk menjaga arah tetap berada pada tujuan bersama. Lebih jauh lagi ketika berbicara persoalan loyalitas kader tidak bisa hanya dibangun melalui seruan atau slogan organisasi. Akan tetapi harus diupayakan tumbuh dari pengalaman kolektif yang dirasakan secara nyata dalam berproses di organisasi. Ketika kader menemukan ruang untuk berkembang, didengar, dan diakui keberadaannya. Dalam situasi seperti itu, komitmen tidak lagi menjadi beban dalam berproses, tetapi menjadi pilihan sadar yang haru dilakukan terus menerus.

Akhirnya jika dilihat dari kompleksitas problem dan kesalahan management organusasi serta pendistribusian gagasan-gagasan besar, ide kemerdekaan, memperjuaangkan kaum mustadzafin, atau semangat mengimplementesaikan dzikir fikir amal soleh kiranya hanya sebagai proses untuk menjadikan diri ini berani melakukan "apa yang seharusnya" dari proses pembelajaran kepada "apa yang terjadi" direalitanya.

Kiranya seminim minimnya mahasiswa akan meiliki tuntutan lebih baik dimasa mendatang dan yang dibutuhkan bukanlah tambahan gagasan besar, melainkan keberanian untuk menyederhanakan langkah dan memastikan bahwa setiap pemikiran memiliki tindak lanjut, setiap diskusi memiliki arah, dan setiap kader memiliki ruang untuk bergerak. Dari proses yang sederhana namun konsisten inilah upaya perlahan dari gerakan yang sempat melemah dapat menemukan kembali denyutnya.

 

Semoga kedepanya dapat lebih baik dan bermanfaat.

Tumbuh Subur Pergerakan.

Wallahul Muwaffiq.

Penulis : Muhammad Ridwan - Ketua PMII Rayon Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya

Posting Komentar

Posting Komentar