Ada satu
hal yang tidak bisa diabaikan, bahwa dalam tubuh "Pergerakan" sering
kali terjadi jarak antara apa yang dipikirkan dengan apa yang dibicarakan, dari
yang dibicarakan dengan apa yang benar-benar dilakukan. Jarak inilah yang
perlahan lahan melahirkan ironi dalam tubuh "Pergerakan", ketika
gagasan besar terus menerus diproduksi akan tetapi tidak menemukan bentuknya
dalam tindakan kongkret.
Dalam
waktu yang sama, semangat yang semula menyala justru meredup di ujung setiap gerakan kongkret, hal ini terjadi bukan karena ketiadaan potensi, melainkan
karena tidak adanya arah gerak yang jelas dan semangat yang sama dalam memahami
sistem secara berkelanjutan.
Situasi
ini memerlukan perubahan yang tidak berhenti pada tataran wacana, kaderisasi
misalnya, tidak cukup hanya dipahami sebagai proses penguatan intelektual
tetapi harus menjadi ruang pembentukan kebiasaan bertindak pagi seluruh kader
dalam berperoses. Artinya setiap proses belajar perlu diikuti dengan praktik
konkret sekecil apa pun itu. Dari sinilah konsistensi mulai dibangun dan bukan
sebagai tuntutan moral melainkan sebagai hasil dari keterlibatan yang
terus-menerus kira-kira.
Dalam
konteks diskursus perkembangan dalam organisasi, penting untuk menggeser
orientasi dari sekadar “membicarakan” menjadi “menghasilkan”. Membuat forum
kajian yang seringkali digunakan sebagai alternatif kegiatan tidak lagi cukup
menjadi tempat berkembang jika hanya melahirkan pemahaman hampa, tetapi perlu
diarahkan untuk menciptakan hasil yang bisa diuji dan dirasakan dampaknya.
Dengan begitu gagasan tidak berhenti sebagai sesuatu yang “melangit”, melainkan
bergerak menuju realitas yang lebih membumi bagi banyak orang.
Dari sini jika dikaji lebih mendalam persoalan kelelahan kader di PMII RUF perlu dipahami sebagai tanda bahwa ritme organisasi belum berjalan secara sehat. Energi gerakan kita tidak akan bertahan jika hanya bertumpu pada semangat sesaat atau tuntutan militansi tanpa arah yang jelas disetiap tahunnya. Karena pemahaman militansi, loyalitas dan integritas kader itu perlu dibangun melalui pola gerak yang lebih terukur, dengan pembagian peran yang jelas serta ruang partisipasi yang proporsional ditubuh PMII RUF. Agar nantinya kader tidak hanya dituntut aktif semata-mata hanya untuk menghidupkan organisasi, tetapi juga perlu merasakan bahwa keterlibatannya memiliki makna yang penting dari setiap kegiatan.
PMII RUF
dalam situasi seperti ini tidak membutuhkan sebuah sistem kepemimpinan yang
hadir sebagai simbol atau pusat komando otoriter, tetapi sebagai penggerak yang
memastikan setiap proses berjalan dan keterhubungan. Ukuran keberhasilan dari
proses kedepan tidak lagi terletak pada banyaknya kegiatan yang dibuat,
melainkan pada sejauh mana kegiatan tersebut mampu membangun kesinambungan dan
dampak yang dihasilkan. Maka evaluasi menjadi bagian penting, bukan untuk
mencari kesalahan pribadi, tetapi untuk menjaga arah tetap berada pada tujuan
bersama. Lebih jauh lagi ketika berbicara persoalan loyalitas kader tidak bisa
hanya dibangun melalui seruan atau slogan organisasi. Akan tetapi harus
diupayakan tumbuh dari pengalaman kolektif yang dirasakan secara nyata dalam
berproses di organisasi. Ketika kader menemukan ruang untuk berkembang,
didengar, dan diakui keberadaannya. Dalam situasi seperti itu, komitmen tidak
lagi menjadi beban dalam berproses, tetapi menjadi pilihan sadar yang haru
dilakukan terus menerus.
Akhirnya
jika dilihat dari kompleksitas problem dan kesalahan management organusasi
serta pendistribusian gagasan-gagasan besar, ide kemerdekaan, memperjuaangkan
kaum mustadzafin, atau semangat mengimplementesaikan dzikir fikir amal soleh
kiranya hanya sebagai proses untuk menjadikan diri ini berani melakukan
"apa yang seharusnya" dari proses pembelajaran kepada "apa yang
terjadi" direalitanya.
Kiranya
seminim minimnya mahasiswa akan meiliki tuntutan lebih baik dimasa mendatang
dan yang dibutuhkan bukanlah tambahan gagasan besar, melainkan keberanian untuk
menyederhanakan langkah dan memastikan bahwa setiap pemikiran memiliki tindak
lanjut, setiap diskusi memiliki arah, dan setiap kader memiliki ruang untuk
bergerak. Dari proses yang sederhana namun konsisten inilah upaya perlahan dari
gerakan yang sempat melemah dapat menemukan kembali denyutnya.
Semoga kedepanya dapat lebih baik dan bermanfaat.
Tumbuh Subur Pergerakan.
Wallahul Muwaffiq.
Penulis : Muhammad Ridwan - Ketua PMII Rayon Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya




Posting Komentar