no fucking license
Bookmark

Kenapa Harus Dibuat Rumit ?

Media Lentera Biru

Di berbagai forum mahasiswa hari ini, mulai dari ruang kelas hingga ke warkop kita sering menjumpai pemandangan yang kalau di pikir-pikir itu agak lucu, tapi di anggap sudah lumrah dan terbiasa. Orang -orang berbicara panjang lebar dengan  istilah-istilah yang melangit dengan nada yang seolah-olah penuh akan wibawa, dan yang mendengarkannya juga mengangguk-angguk. Entah dia sudah paham atau sekedar ta’dzim.

Bahasa yang semakin sulit dipahami dianggap semakin dalam, dan semakin banyak istilah asing yang digunakan akan terlihat semakin pintar. Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Bahasa yang semestinya di gunakan sebagai alat untuk menjelaskan sebuah gagasan, kini pelan-pelan berubah menjadi alat untuk mengesankan. Orang tidak lagi sibuk untuk memberikan pemahaman terhadap orang lain, hanya sibuk memastikan dirinya terlihat mengerti. Hingga pada akhirnya seperti panggung pertunjukan. Siapa yang terdengar paling ilmiah, dialah yang di anggap menang.

Kalau di ibaratkan, ini seperti seseorang yang memakai jas tebal di tengah siang bolong. Dari luarnya tampak rapi, berkelas, dan mengesankan, tetapi yang memakainya sendiri merasa gerah dan tidak nyaman. Sehingga orang-orang bertanya, “itu dia mau ke kondangan atau mau pingsan?”. Begitulah dengan bahasa yang terlalu di paksakan tinggi. Mungkin saja dia terlihat intelektualis namun belum tentu mencerminkan pemahaman.

Masalah sebenarnya sederhana saja, namun  sering kita tidak sadari, bahwa bukan istilahnya yang salah, melainkan kita yang lupa dari tujuan istilah itu sendiri. Sebab, istilah itu dibuat untuk membantu menjelaskan, bukan malah menyesatkan dan membingungkan. Ketika tujuan itu hilang maka istilah juga beralih fungsi. Yang awalnya menjadi alat bantu berubah menjadi aksesoris.

Tidak sedikit orang yang berbicara seolah-olah dia tahu, padahal dia belum paham. Kata-kata besar mulai keluar berseluncuran, tapi disuruh menjelaskan  malah tersendat-sendat. Ini bukan masalah soal benar salahnya, tapi soal jujur terhadap pemahaman sendiri. Seperti orang yang membuka google maps tapi tidak tahu cara membacanya. Petanya sudah ada dan lengkap dan bahkan mahal juga, karena harus menggunakan internet. Tapi kalo tidak tahu cara membacanya, ya sama saja akan muter-muter terus, bahkan tersesat sambil kelihatan yakin.

Pemahaman tidak di ukur dari seberapa tinggi bahasa yang kita gunanka, melainkan seberapa jelas kita menjelasknnya. Orang yang benar-benar paham biasanya lebih sederhana dalam berbicara, bukan karena tidak bisa rumit, tapi mereka tahu bahwa itu tidak perlu. Namun yang terjadi pada kita saat ini adalah kebalikannya. Kita lebih sibuk menyusun kalimat yang terdengar canggih daripada memastikan apakah orang lain benar-benar mengerti. Yang penting dapat terlihat pintar dulu, masalah paham atau enggaknya itu belakangan.

Dampaknya mulai terasa dalam ruang-ruang diskusi. Orang -orang berbicara panjang lebar, tapi arah pembicaraannya tidak jelas. Satu bicara A, yang lainnya menjawab B, dan yang lainnya menjawab Z. Semuanya terlihat pintar, tapi pembicaraan dan pemahamannya tidak saling bertemu. Sehingga diskusi terasa ramai tapi makna sepi.

Di titik ini, kita hanya perlu jujur, forum diskusi pelan-pelan mulai berubah menjadi panggung. Yang tampil bukan lagi pemahaman, tapi performa, dan Yang dikejar bukan lagi kejelasan, tapi kesan. Padahal, tujuan belajar itu bukan untuk terdengar pintar, tapi untuk menjadi mengerti. Maka, sebelum kita terlalu jauh mengkritik orang lain, mungkin ada baiknya kita berhenti sebentar dan bertanya pada diri sendiri. Pertanyaannya sederhana saja, “untuk apa kita memakai istilah?. Apakah kita benar-benar paham, atau hanya mengulang saja?”.

Kadang kita ini seperti orang yang hafal nama-nama jalan, tapi belum pernah benar-benar berjalan di atasnya. Hanya tahu istilahnya, tapi tidak tahu arahnya. Dan yang seperti ini, jumlahnya sudah tidak sedikit lagi. Karena itu, yang kita butuhkan mungkin bukan tambahan istilah baru, melainkan keberanian untuk jujur. Jujur bahwa memahami itu berbeda dengan menghafal. Dan mengerti itu tidak harus terdengar tinggi.

Pemahaman yang benar biasanya sederhana. Orang yang paham tidak akan kesulitan untuk menjelaskan. Menyampaikan hal yang rumit dengan cara yang ringan, misalnya. Seperti seorang ibu yang menjelaskan sesuatu kepada anaknya. Tidak pakai istilah yang aneh-aneh. Tidak pakai kalimat yang rumit, tapi anak itu bisa mengerti. Dan bukankah itu tujuan dari setiap penjelasan?

Jadi, bahasa sederhana itu bukan berarti dangkal. Justru sering kali, itu tanda bahwa seseorang sudah benar-benar paham. Tidak perlu muluk-muluk, kita mulai saja dari hal kecil, dengan menggunakan istilah seperlunya. Kalau bisa dijelaskan dengan sederhana, kenapa harus dipersulit. Kalau bisa dibuat terang, kenapa harus dibuat kabur. Kita latih diri untuk menjelaskan, bukan memamerkan. Karena menjelaskan itu butuh pemahaman, sementara memamerkan cukup dengan hafalan.

Dan di sinilah kita perlu mengingat kembali satu hal yang sering terbalik, “intelektual sejati bukan yang paling sulit dipahami, melainkan yang paling mudah dipahami”. Pada akhirnya, kita kembali ke titik awal. Mahasiswa hari ini mungkin sudah sangat akrab dengan berbagai istilah. Bahkan mungkin terlalu akrab. Tapi di saat yang sama, kita perlahan mulai lupa untuk ap akita melakukan semua itu?

Ilmu bukan untuk terdengar hebat. Ia ada untuk memberi makna, menjelaskan yang sulit, dan membantu menyelesaikan masalah. Kalau bahasa justru menjauhkan dari itu, mungkin yang perlu kita perbaiki bukan kosakata kita, tapi cara kita memahami. Karena, jangan sampai kita sibuk menyalakan lampu di mana-mana, tapi kita lupa untuk benar-benar menerangi yang gelap.


Penulis : Hatman Roqfah

Posting Komentar

Posting Komentar