Di
berbagai forum mahasiswa hari ini, mulai dari ruang kelas hingga ke warkop kita
sering menjumpai pemandangan yang kalau di pikir-pikir itu agak lucu, tapi di
anggap sudah lumrah dan terbiasa. Orang -orang berbicara panjang lebar
dengan istilah-istilah yang melangit
dengan nada yang seolah-olah penuh akan wibawa, dan yang mendengarkannya juga
mengangguk-angguk. Entah dia sudah paham atau sekedar ta’dzim.
Bahasa
yang semakin sulit dipahami dianggap semakin dalam, dan semakin banyak istilah
asing yang digunakan akan terlihat semakin pintar. Padahal yang terjadi justru
sebaliknya. Bahasa yang semestinya di gunakan sebagai alat untuk menjelaskan
sebuah gagasan, kini pelan-pelan berubah menjadi alat untuk mengesankan. Orang
tidak lagi sibuk untuk memberikan pemahaman terhadap orang lain, hanya sibuk
memastikan dirinya terlihat mengerti. Hingga pada akhirnya seperti panggung
pertunjukan. Siapa yang terdengar paling ilmiah, dialah yang di anggap menang.
Kalau
di ibaratkan, ini seperti seseorang yang memakai jas tebal di tengah siang
bolong. Dari luarnya tampak rapi, berkelas, dan mengesankan, tetapi yang
memakainya sendiri merasa gerah dan tidak nyaman. Sehingga orang-orang
bertanya, “itu dia mau ke kondangan atau mau pingsan?”. Begitulah dengan bahasa
yang terlalu di paksakan tinggi. Mungkin saja dia terlihat intelektualis namun
belum tentu mencerminkan pemahaman.
Masalah
sebenarnya sederhana saja, namun sering
kita tidak sadari, bahwa bukan istilahnya yang salah, melainkan kita yang lupa
dari tujuan istilah itu sendiri. Sebab, istilah itu dibuat untuk membantu
menjelaskan, bukan malah menyesatkan dan membingungkan. Ketika tujuan itu
hilang maka istilah juga beralih fungsi. Yang awalnya menjadi alat bantu
berubah menjadi aksesoris.
Tidak
sedikit orang yang berbicara seolah-olah dia tahu, padahal dia belum paham.
Kata-kata besar mulai keluar berseluncuran, tapi disuruh menjelaskan malah tersendat-sendat. Ini bukan masalah
soal benar salahnya, tapi soal jujur terhadap pemahaman sendiri. Seperti orang
yang membuka google maps tapi tidak tahu cara membacanya. Petanya sudah ada dan
lengkap dan bahkan mahal juga, karena harus menggunakan internet. Tapi kalo
tidak tahu cara membacanya, ya sama saja akan muter-muter terus, bahkan
tersesat sambil kelihatan yakin.
Pemahaman
tidak di ukur dari seberapa tinggi bahasa yang kita gunanka, melainkan seberapa
jelas kita menjelasknnya. Orang yang benar-benar paham biasanya lebih sederhana
dalam berbicara, bukan karena tidak bisa rumit, tapi mereka tahu bahwa itu
tidak perlu. Namun yang terjadi pada kita saat ini adalah kebalikannya. Kita
lebih sibuk menyusun kalimat yang terdengar canggih daripada memastikan apakah
orang lain benar-benar mengerti. Yang penting dapat terlihat pintar dulu,
masalah paham atau enggaknya itu belakangan.
Dampaknya
mulai terasa dalam ruang-ruang diskusi. Orang -orang berbicara panjang lebar,
tapi arah pembicaraannya tidak jelas. Satu bicara A, yang lainnya menjawab B,
dan yang lainnya menjawab Z. Semuanya terlihat pintar, tapi pembicaraan dan
pemahamannya tidak saling bertemu. Sehingga diskusi terasa ramai tapi makna
sepi.
Di titik ini, kita hanya
perlu jujur, forum diskusi pelan-pelan mulai berubah menjadi panggung. Yang
tampil bukan lagi pemahaman, tapi performa, dan Yang dikejar bukan lagi
kejelasan, tapi kesan. Padahal, tujuan belajar itu bukan untuk terdengar
pintar, tapi untuk menjadi mengerti. Maka, sebelum kita terlalu jauh mengkritik
orang lain, mungkin ada baiknya kita berhenti sebentar dan bertanya pada diri
sendiri. Pertanyaannya sederhana saja, “untuk apa kita memakai istilah?. Apakah
kita benar-benar paham, atau hanya mengulang saja?”.
Kadang kita ini seperti
orang yang hafal nama-nama jalan, tapi belum pernah benar-benar berjalan di
atasnya. Hanya tahu istilahnya, tapi tidak tahu arahnya. Dan yang seperti ini,
jumlahnya sudah tidak sedikit lagi. Karena itu, yang kita butuhkan mungkin
bukan tambahan istilah baru, melainkan keberanian untuk jujur. Jujur bahwa
memahami itu berbeda dengan menghafal. Dan mengerti itu tidak harus terdengar
tinggi.
Pemahaman yang benar
biasanya sederhana. Orang yang paham tidak akan kesulitan untuk menjelaskan. Menyampaikan hal yang
rumit dengan cara yang ringan, misalnya. Seperti seorang ibu yang menjelaskan sesuatu kepada
anaknya. Tidak pakai istilah yang aneh-aneh. Tidak pakai kalimat yang rumit, tapi
anak itu bisa mengerti. Dan bukankah itu tujuan dari setiap penjelasan?
Jadi, bahasa sederhana
itu bukan berarti dangkal. Justru sering kali, itu tanda bahwa seseorang sudah
benar-benar paham. Tidak perlu muluk-muluk, kita mulai saja dari hal
kecil, dengan menggunakan istilah seperlunya. Kalau bisa dijelaskan dengan
sederhana, kenapa harus dipersulit. Kalau bisa dibuat terang, kenapa harus
dibuat kabur. Kita latih diri untuk menjelaskan, bukan memamerkan. Karena
menjelaskan itu butuh pemahaman, sementara memamerkan cukup dengan hafalan.
Dan di sinilah kita perlu
mengingat kembali satu hal yang sering terbalik, “intelektual sejati bukan yang
paling sulit dipahami, melainkan yang paling mudah dipahami”. Pada akhirnya,
kita kembali ke titik awal. Mahasiswa hari ini mungkin sudah sangat akrab
dengan berbagai istilah. Bahkan mungkin terlalu akrab. Tapi di saat yang sama,
kita perlahan mulai lupa untuk ap akita melakukan semua itu?
Ilmu bukan untuk
terdengar hebat. Ia ada untuk memberi makna, menjelaskan yang sulit, dan
membantu menyelesaikan masalah. Kalau bahasa justru menjauhkan dari itu,
mungkin yang perlu kita perbaiki bukan kosakata kita, tapi cara kita memahami. Karena,
jangan sampai kita sibuk menyalakan lampu di mana-mana, tapi kita lupa untuk
benar-benar menerangi yang gelap.
Penulis : Hatman Roqfah




Posting Komentar