no fucking license
Bookmark

Beban yang Kamu Tinggalkan Tidak Ikut Pergi

"Amanah Itu Berat, dan Memang Seharusnya Begitu"

Ada orang yang datang dengan semangat menyala, tangan terangkat tinggi, suara paling lantang di ruangan. Mereka yang pertama berkata "aku siap" dan paling awal menghilang ketika siap itu diuji. Kita semua pernah mengenal seseorang seperti itu. Atau mungkin kita pernah menjadi orang itu.

Amanah bukan seremoni. Ia bukan foto pelantikan yang diunggah malam itu juga, bukan caption penuh tekad yang mendapat ratusan likes, bukan sumpah yang diucapkan lantang di depan orang banyak. Amanah adalah apa yang kamu lakukan ketika tidak ada yang menonton ketika rapat terasa membosankan, ketika program kerja terasa berat, ketika semangat awal itu sudah lama pudar dan yang tersisa hanya pilihan: tetap atau pergi. Para sufi menyebutnya taklif  beban yang diberikan bukan kepada sembarang jiwa, melainkan kepada mereka yang dianggap sanggup. Bukan hadiah tapi ujian, dan ujian itu jarang datang dalam bentuk yang dramatis.

Ia datang dalam bentuk grup yang mulai kamu mute. Undangan rapat yang kamu biarkan centang satu. Nama tugasmu yang terus ada di notulensi, tapi pekerjaannya entah di mana. Perlahan, tanpa pengumuman, tanpa pamit kamu menjadi hantu di organisasi yang dulu kamu masuki dengan penuh suara. Psikologi menyebutnya avoidance bukan kemalasan, bukan ketidakpedulian, tapi sebuah mekanisme pelarian ketika sesuatu terasa terlalu berat untuk dihadapi. Sangat manusiawi. Sangat bisa dimengerti. Tapi mengerti bukan berarti tidak ada konsekuensinya.

Karena di seberang keputusanmu untuk menghilang, ada orang-orang yang menanggung beban yang seharusnya bukan milik mereka seorang. Ada yang lembur dua kali lipat tanpa bertanya kenapa. Ada yang diam-diam belajar untuk tidak lagi menaruh nama tertentu dalam daftar harapannya. Kepercayaan yang retak tidak selalu disertai suara keras. Kadang ia hanya berupa jeda saat seseorang berhenti menyebutkan namamu dalam rencana ke depan.

Dalam tradisi tasawuf, ada kesadaran bernama muraqabah bahwa setiap langkah, termasuk langkah mundur, meninggalkan jejak. Bukan di catatan absensi, bukan di mata ketua tapi di sesuatu yang jauh lebih dalam di dalam dirimu sendiri, di lapisan jiwa yang paling jujur, tempat di mana kamu tidak bisa berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. Jiwa yang meninggalkan amanah setengah jalan tidak benar-benar bebas. 

Karena pada akhirnya, organisasi akan tetap berjalan. Program akan tetap terlaksana. Nama-nama baru akan mengisi kursi yang kamu tinggalkan. Dunia tidak berhenti hanya karena satu orang memilih menghilang, karena yang berhenti dan mungkin tanpa kamu sadari sudah lama berhenti, adalah bagian dari dirimu yang dulu percaya bahwa kamu adalah orang yang menepati janji, dan di sinilah bagian yang paling sunyi dari semua ini.

Kamu mungkin sudah move on, sudah menemukan kesibukan baru, komunitas baru, alasan baru untuk merasa baik-baik saja, tapi ada momen-momen kecil yang datang tanpa diundang ketika kamu melihat foto dokumentasi acara yang dulu kamu tinggalkan setengah jalan, ketika namamu disebut dalam konteks yang kamu tahu kamu tidak layak mendapatkannya, ketika seseorang dari tim lama tiba-tiba menyapa dan ada sesuatu di dadamu yang tidak bisa kamu beri nama.

Itu bukan rasa bersalah biasa, dalam psikoterapi, ia disebut unfinished business urusan yang belum selesai, yang tidak peduli seberapa jauh kamu pergi, akan terus mengetuk dari dalam. Jiwa manusia memiliki cara tersendiri untuk mengingat apa yang pernah ia janjikan. Ia tidak butuh pengadilan, tidak butuh teguran dari orang lain. Cukup keheningan malam, dan tiba-tiba semua itu hadir kembali.
Para arif mengajarkan bahwa pertobatan sejati bukan sekadar menyesal ia adalah kembali

Kembali bukan berarti meminta maaf dengan kata-kata yang indah. Kembali berarti mengubah pola. Berarti ketika kesempatan berikutnya datang, kamu tidak lagi memilih jalan yang sama. Karena amanah bukan hanya tentang masa lalu yang sudah kamu tinggalkan. Ia tentang siapa yang sedang kamu bentuk hari ini dan apakah orang itu cukup berani untuk tidak mengulangi hal yang sama.

Amanah bukan soal seberapa lantang kamu berkomitmen di awal. Ia soal seberapa diam-diam kamu tetap bertahan hingga akhir dan seberapa jujur kamu kepada dirimu sendiri ketika kamu tidak.

 
Farhatus Solihati
Penulis
Farhatus Solihati
Mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya yang aktif di dunia organisasi. Ia percaya bahwa setiap amanah bukan sekadar posisi yang dijalankan, melainkan tanggung jawab yang meninggalkan jejak bagi mereka yang melanjutkannya.
1 komentar

1 komentar

  • DZIKIR PUISI
    DZIKIR PUISI
    31 Mei 2026 pukul 10.18
    Apik apik
    Reply